68% penduduk Indonesia saat ini didominasi oleh kombinasi kelompok milenial, Gen Z, dan post-Gen Z. Angka demografi yang dirilis Badan Pusat Statistik (BPS) ini bukan sekadar statistik kependudukan biasa. Struktur usia inilah yang menjadi motor utama di balik pergeseran radikal cara uang berputar di pasar domestik hari ini.
Masyarakat kini tidak lagi menempatkan kepemilikan barang sebagai prioritas utama. Membeli baju baru atau menimbun barang koleksi mulai digantikan oleh pencarian memori kolektif. Ada perubahan besar dalam cara konsumen mendefinisikan nilai sebuah pengeluaran.
Apa Arti Angka Pertumbuhan 5,61%?
Ekonomi Indonesia secara mengejutkan tumbuh solid sebesar 5,61% secara tahunan (year-on-year) pada Triwulan I-2026. Laporan BPS yang dirilis Mei 2026 menunjukkan bahwa pendorong utama struktur produk domestik bruto (PDB) kita tetap berada pada konsumsi rumah tangga.
Tapi jangan salah sangka. Pertumbuhan yang kuat ini tidak merata di semua sektor ritel konvensional.
Kenyatanya berbeda di lapangan. Toko pakaian fisik dan pusat perbelanjaan grosir mengeluhkan penurunan kunjungan, sementara sektor akomodasi, tiket pesawat, dan industri kuliner justru kewalahan menghadapi lonjakan permintaan. Fenomena ini mengonfirmasi era baru yang disebut experience economy. Masyarakat lebih rela merogoh kocek mendalam untuk menikmati staycation, menghadiri konser musik, atau berburu kuliner autentik yang memiliki narasi unik.
Faktor Penyebab Pergeseran Dominasi Demografi
Mengapa perubahan pola konsumsi masyarakat ini terjadi begitu masif? Jawabannya ada pada karakter generasi digital yang mendominasi pasar. Pelaku pasar dari kelompok usia muda ini menuntut kepraktisan tinggi dan pengakuan sosial yang terwujud lewat aktivitas, bukan benda mati.
Perubahan ini juga difasilitasi oleh infrastruktur teknologi yang kian matang. Berdasarkan data BPS (2026), transaksi perdagangan melalui sistem elektronik di Indonesia tumbuh pesat sebesar 27,8% secara tahunan.
Kemudahan sistem pembayaran digital membuat keputusan untuk membeli "pengalaman secara instan" menjadi jauh lebih mudah dilakukan. Konsumen bisa memesan makanan premium dari rumah atau membeli tiket perjalanan dalam hitungan detik. Kecepatan transaksi ini memicu matinya loyalitas konsumen pada brand yang lambat bertransformasi secara digital.
Implikasi Praktis untuk Bisnis Anda
Bagi pemilik brand dan entrepreneur di Indonesia, lanskap baru ini menuntut fleksibilitas tinggi. Menjual komoditas secara fungsional murni sudah tidak lagi cukup untuk memenangkan pasar.
Bisnis kuliner atau F&B, misalnya, tidak bisa lagi hanya menjual rasa kenyang. Produk makanan, bahkan dalam bentuk kemasan beku (frozen food), harus dikemas sebagai bagian dari sebuah ritual atau pengalaman kuliner yang autentik di rumah. Konsumen bersedia membayar lebih mahal jika brand mampu menawarkan higienitas premium, cerita di balik produk, serta integrasi digital yang mulus saat pemesanan.
Sektor industri kreatif pun wajib memutar haluan. Strategi komunikasi visual sebuah brand kini harus berfokus pada emosi dan interaksi yang dihasilkan produk, bukan sekadar menampilkan spesifikasi teknis barang.
FAQ
Mengapa masyarakat saat ini lebih memilih membeli pengalaman dibanding barang?
Dominasi populasi yang kini dipegang oleh Milenial dan Gen Z (~68%) mengubah nilai konsumsi. Mereka lebih menghargai memori, mobilitas, dan konten yang lahir dari sebuah aktivitas nyata dibandingkan kepemilikan barang fisik.
Bagaimana pengaruh transaksi digital terhadap perubahan pola konsumsi masyarakat?
Kemudahan transaksi digital, yang tumbuh 27,8% secara tahunan menurut BPS, menghilangkan hambatan psikologis konsumen dalam berbelanja, membuat pembelian produk jasa dan kuliner berbasis aplikasi meningkat tajam.
Apa yang harus dilakukan pelaku UMKM menghadapi tren ekonomi baru ini?
UMKM harus menyuntikkan unsur experience ke dalam produk mereka. Mulai dari kemasan yang interaktif, penceritaan brand (storytelling) yang kuat, hingga penyediaan layanan digital yang cepat dan andal.
Langkah Strategis ke Depan
Lanskap pasar telah berubah permanen. Langkah selanjutnya bagi para pelaku usaha bukanlah meratapi penurunan daya beli pada sektor barang tradisional, melainkan merekayasa ulang bagaimana produk mereka dikonsumsi. Bisnis yang akan bertahan adalah mereka yang mampu mengubah produk fisik menjadi sebuah portofolio pengalaman digital dan personal yang bernilai tinggi bagi konsumen modern Indonesia.
Sumber:
- Kompas.com. (2026). Bukan Baju Baru, BPS Sebut Saat Ini Masyarakat Lebih Pilih Pengalaman. Diakses pada 2 Juni 2026 dari [https://travel.kompas.com/read/2026/05/27/080235727/bukan-baju-baru-bps-sebut-saat-ini-masyarakat-lebih-pilih-pengalaman](https://travel.kompas.com/read/2026/05/27/080235727/bukan-baju-baru-bps-sebut-saat-ini-masyarakat-lebih-pilih-pengalaman)
- CNN Indonesia. (2026). Konsumsi Rumah Tangga Topang Ekonomi RI Tumbuh 5,61% Triwulan I-2026. Diakses pada 2 Juni 2026 dari [https://www.cnnindonesia.com/ekonomi/20260506125243-537-1355694/konsumsi-rumah-tangga-topang-ekonomi-ri-tumbuh-561-triwulan-i-2026](https://www.cnnindonesia.com/ekonomi/20260506125243-537-1355694/konsumsi-rumah-tangga-topang-ekonomi-ri-tumbuh-561-triwulan-i-2026)
- Suara Surabaya. (2026). BPS Mencatat Pertumbuhan Ekonomi Triwulan 1 2026 Mencapai 5.61 Persen Lebih Tinggi Dari Tiongkok. Diakses pada 2 Juni 2026 dari [https://www.suarasurabaya.net/ekonomibisnis/2026/bps-mencatat-pertumbuhan-ekonomi-triwulan-1-2026-mencapai-5-61-persen-lebih-tinggi-dari-tiongkok/](https://www.suarasurabaya.net/ekonomibisnis/2026/bps-mencatat-pertumbuhan-ekonomi-triwulan-1-2026-mencapai-5-61-persen-lebih-tinggi-dari-tiongkok/)
Published: 2 Juni 2026
Source and editorial notes are managed through GATICORP CMS.




