Konsumsi Tumbuh 5,06%, tetapi Ritel Melemah Bulanan: Cara Membaca Konsumen Indonesia 2026

Bisnis

Konsumsi Tumbuh 5,06%, tetapi Ritel Melemah Bulanan: Cara Membaca Konsumen Indonesia 2026

Konsumsi Indonesia masih tumbuh dan keyakinan konsumen tetap optimistis. Namun penjualan ritel, perjalanan, pembayaran digital, dan pengeluaran berbasis pengalaman menunjukkan pola yang lebih kompleks. Bisnis perlu membaca pelanggan dari data mereka sendiri, bukan hanya dari angka makro.

Bayangkan seorang pemilik kafe, toko pakaian, atau bisnis frozen food membaca berita bahwa konsumsi rumah tangga Indonesia tumbuh 5,06%. Angkanya terdengar meyakinkan. Ekonomi juga tumbuh 5,29%.

Lalu ia membuka laporan penjualan usahanya sendiri.

Jumlah transaksi tidak melonjak. Pelanggan lebih sering bertanya harga. Beberapa produk bergerak cepat, tetapi produk lain lebih lama tinggal di rak. Promosi menghasilkan traffic, tetapi tidak selalu menghasilkan basket size yang lebih besar.

Apakah data makro salah?

Tidak.

Kemungkinan yang terjadi jauh lebih sederhana: angka konsumsi nasional dan pengalaman sebuah bisnis mengukur hal yang berbeda.

BPS mencatat konsumsi rumah tangga tumbuh 5,06% secara tahunan pada kuartal II 2026.[1] Pertumbuhan tersebut lebih rendah dibandingkan 5,52% pada kuartal sebelumnya, tetapi tetap menunjukkan aktivitas konsumsi yang cukup kuat.[6]

Namun, data ritel Bank Indonesia menunjukkan cerita bulanan yang lebih berhati-hati. Indeks Penjualan Riil Mei tercatat 223,4, tetapi turun 1,5% dibandingkan April. Untuk Juni, responden pada saat survei memperkirakan penjualan turun lagi 0,8% secara bulanan menjadi indeks 221,6.[2]

Keduanya bisa benar pada saat bersamaan.

Pertama, jangan membandingkan angka yang sebenarnya mengukur hal berbeda

Ini bagian yang mudah terlewat.

Pertumbuhan konsumsi rumah tangga 5,06% adalah year-on-year: kuartal II 2026 dibandingkan dengan kuartal II 2025.

Sementara kontraksi penjualan ritel 1,5% pada Mei adalah month-on-month: Mei dibandingkan dengan April.

Periode pembandingnya berbeda.

Selain itu, cakupannya juga tidak sama.

Menurut metadata BPS, Pengeluaran Konsumsi Rumah Tangga mencakup pengeluaran rumah tangga residen atas barang dan jasa untuk konsumsi akhir, selain barang modal.[7] Artinya, konsumsi tidak hanya berarti belanja di toko. Transportasi, akomodasi, layanan, makanan, komunikasi, rekreasi, dan berbagai jasa lainnya menjadi bagian dari ekonomi rumah tangga.

Survei Penjualan Eceran BI, sebaliknya, membaca aktivitas kelompok ritel tertentu.

Jadi ketika konsumsi rumah tangga tumbuh tetapi penjualan beberapa kategori barang melemah dari bulan sebelumnya, kita tidak sedang melihat dua statistik yang saling membantah.

Kita sedang melihat konsumen dari dua jendela berbeda.

Uang mungkin tetap dibelanjakan—tetapi tidak selalu di tempat yang sama

Ada petunjuk menarik dari kuartal II.

Reuters, mengutip data BPS, mencatat konsumsi rumah tangga selama periode tersebut antara lain didukung pengeluaran transportasi dan hotel pada masa liburan sekolah.[6]

Data pariwisata BPS memperkuat konteks tersebut. Pada Mei 2026, perjalanan wisatawan nusantara mencapai 106,16 juta perjalanan, naik 8,69% dibandingkan Mei 2025. Tingkat hunian kamar hotel bintang mencapai 50,76%, naik 2,48 persentase poin secara tahunan.[4]

Ini belum cukup untuk menyimpulkan bahwa masyarakat secara permanen meninggalkan pembelian barang demi pengalaman.

Tetapi bagi bisnis, sinyalnya penting.

Konsumen tidak harus berhenti belanja agar sebuah toko merasakan tekanan. Mereka cukup mengubah alokasi belanjanya.

Rp500.000 yang tahun lalu digunakan untuk membeli barang rumah tangga dapat tahun ini berpindah ke tiket perjalanan, makan bersama keluarga, kegiatan anak selama liburan, atau bentuk konsumsi lain.

Total konsumsi dapat tetap tumbuh, sementara kategori tertentu kehilangan bagian dari dompet konsumen.

Itulah sebabnya bisnis perlu berhenti bertanya hanya:

“Apakah daya beli naik atau turun?”

Pertanyaan yang lebih berguna adalah:

“Untuk apa pelanggan kami memilih menggunakan uangnya sekarang?”

Konsumen masih optimistis—tetapi optimistis bukan berarti boros

Survei Konsumen Bank Indonesia pada Juni menunjukkan Indeks Keyakinan Konsumen sebesar 117,8.[3]

Karena berada di atas 100, konsumen secara agregat masih berada di zona optimistis.

Tetapi angka tersebut turun dari 120,9 pada Mei. Indeks Kondisi Ekonomi Saat Ini juga menurun dari 112,2 menjadi 109,2, sedangkan Indeks Ekspektasi Konsumen turun dari 129,7 menjadi 126,4.[3]

Ini memberi perspektif yang lebih halus daripada narasi “konsumen kuat” atau “konsumen lemah”.

Masyarakat masih percaya terhadap prospek ekonomi, tetapi mungkin tetap berhati-hati dalam menentukan prioritas.

Untuk sebuah brand, sikap seperti ini dapat muncul dalam berbagai bentuk: pelanggan membandingkan harga lebih lama, memilih ukuran lebih kecil, menunggu promosi, membeli produk premium lebih jarang, tetapi bersedia membayar untuk sesuatu yang dianggap memiliki manfaat atau pengalaman lebih jelas.

Data nasional tidak bisa mengatakan bahwa perilaku tersebut terjadi pada setiap pelanggan. Tetapi perusahaan dapat mengujinya melalui data transaksinya sendiri.

Digitalisasi membuat konsumen lebih mudah membeli—dan lebih mudah membandingkan

Ada perubahan lain yang sulit diabaikan.

Bank Indonesia mencatat volume pembayaran digital mencapai 16,07 miliar transaksi pada kuartal II 2026, naik 36,88% secara tahunan. Volume transaksi QRIS sendiri tumbuh 100,12%.[5]

Sekali lagi, pertumbuhan transaksi tidak sama dengan pertumbuhan nilai konsumsi. Satu pelanggan dapat melakukan lima transaksi kecil alih-alih satu transaksi besar.

Namun bagi bisnis, pertumbuhan ini memiliki implikasi besar.

Hambatan untuk bertransaksi semakin kecil.

Pelanggan bisa membeli kopi seharga puluhan ribu rupiah tanpa uang tunai. Bisa memesan makanan dari rumah. Bisa melihat tiga kompetitor dalam beberapa menit. Bisa membandingkan harga, review, promosi, dan ongkir sebelum memutuskan.

Kemudahan transaksi menguntungkan bisnis—tetapi juga meningkatkan transparansi kompetisi.

Dulu lokasi strategis dapat menjadi moat.

Sekarang lokasi masih penting, tetapi pengalaman, kemudahan pembayaran, reputasi digital, kualitas visual, review, dan kecepatan pelayanan ikut menentukan keputusan.

Untuk UMKM, ini berarti desain, digital, dan operasional bukan lagi fungsi yang terpisah.

Mereka bertemu di satu titik: pengalaman pelanggan.

Jangan menjawab konsumen selektif hanya dengan diskon

Ketika penjualan melambat, respons paling mudah adalah menurunkan harga.

Tetapi diskon terus-menerus memiliki masalah.

Ia dapat meningkatkan transaksi sementara tetapi mengurangi margin, mengajari pelanggan menunggu promosi, dan mengubah persepsi terhadap harga normal.

Alternatifnya bukan berhenti menggunakan promosi. Yang lebih penting adalah memahami alasan pelanggan membeli.

Bisnis F&B, misalnya, dapat membedakan antara pelanggan yang mencari makanan sehari-hari dan pelanggan yang membeli untuk acara keluarga. Produk dan willingness to pay keduanya tidak sama.

Brand fashion dapat membedakan pembelian fungsional, hadiah, pekerjaan, dan lifestyle.

Bisnis jasa kreatif dapat memisahkan klien yang mencari desain termurah dengan perusahaan yang membutuhkan konsistensi brand dan kecepatan eksekusi.

Ketika konsumen lebih selektif, segmentasi menjadi lebih penting daripada diskon massal.

Lima data internal yang lebih berguna daripada sekadar omzet

Bagi UMKM, transformasi ini tidak membutuhkan dashboard mahal.

Mulailah dengan lima angka.

Pertama, jumlah transaksi. Apakah omzet naik karena pelanggan bertambah atau hanya karena harga meningkat?

Kedua, rata-rata nilai transaksi. Jika jumlah pelanggan tetap tetapi nilai keranjang turun, mungkin pelanggan mulai melakukan trade-down.

Ketiga, repeat purchase. Pelanggan yang kembali memberikan sinyal berbeda dari pelanggan yang datang hanya karena iklan atau diskon.

Keempat, kecepatan perputaran stok. Penjualan total dapat terlihat baik sementara modal tertahan dalam SKU yang tidak bergerak.

Kelima, margin setelah seluruh biaya. Termasuk ongkir, komisi marketplace, promo, pembayaran digital, retur, dan biaya pemasaran.

Lima angka tersebut sering memberikan pemahaman yang lebih relevan daripada bertanya apakah “ekonomi sedang bagus”.

Perusahaan besar menghadapi masalah yang sama dalam skala berbeda

Perusahaan dengan jutaan transaksi memiliki kemampuan analisis lebih besar. Namun volume data tidak otomatis menghasilkan pemahaman.

Risikonya justru berbeda: perusahaan dapat terlalu percaya pada rata-rata.

Pertumbuhan nasional 5% dapat menyembunyikan wilayah yang lemah. Pertumbuhan penjualan nasional dapat menutupi penurunan pelanggan lama. Peningkatan transaksi digital dapat terjadi bersamaan dengan mengecilnya nilai transaksi.

Karena itu, data perlu dipotong berdasarkan wilayah, kanal, kelompok pendapatan, kategori, cohort pelanggan, frekuensi, dan tujuan pembelian.

Pertanyaannya bukan hanya berapa banyak yang dibeli, tetapi siapa yang membeli, kapan, melalui kanal apa, dan untuk kebutuhan apa.

Ada peluang besar bagi bisnis yang mampu membaca konteks

Perubahan pola pengeluaran tidak selalu berarti ancaman.

Jika konsumen lebih banyak bergerak, bisnis F&B dapat memikirkan portable products, destination-based offerings, event packages, atau kolaborasi dengan komunitas.

Jika transaksi digital tumbuh, UMKM memperoleh kesempatan membangun riwayat transaksi yang lebih mudah dianalisis.

Jika pelanggan semakin selektif, creative businesses mendapat peran lebih besar dalam membantu brand menjelaskan nilai produk secara lebih jelas.

Jika perusahaan memiliki lebih banyak kanal, data dapat digunakan untuk memahami kapan pelanggan berpindah dari offline ke digital—atau sebaliknya.

Peluang muncul ketika bisnis berhenti memperlakukan “konsumen Indonesia” sebagai satu orang yang sama.

Apa yang belum bisa kita simpulkan

Data kuartal II belum cukup untuk mengatakan bahwa Indonesia sedang mengalami perubahan struktural permanen dari konsumsi barang menuju pengalaman.

Kontraksi ritel bulanan juga tidak membuktikan bahwa daya beli nasional sedang jatuh.

Indeks keyakinan konsumen yang menurun belum berarti konsumen pesimistis—karena indeks masih berada di atas 100.

Dan pertumbuhan QRIS tidak membuktikan masyarakat menghabiskan uang dua kali lebih banyak hanya karena jumlah transaksinya tumbuh sekitar dua kali lipat.

Justru di sinilah disiplin membaca data menjadi penting.

Angka ekonomi sebaiknya menjadi pertanyaan awal, bukan kesimpulan akhir.

Konsumen tidak menghilang. Mereka mungkin sedang memilih lebih keras.

Bagi bisnis, pesan kuartal II 2026 bukan bahwa konsumen Indonesia berhenti belanja.

Konsumsi masih tumbuh.

Keyakinan masih berada pada zona optimistis.

Mobilitas dan transaksi digital tetap tinggi.

Tetapi uang konsumen memiliki banyak tempat untuk pergi.

Bisnis yang hanya menunggu “daya beli pulih” berisiko melewatkan perubahan yang sebenarnya terjadi di depan mereka.

Yang perlu dilakukan bukan sekadar menjual lebih banyak.

Melainkan memahami mengapa pelanggan memilih satu pengeluaran dan menunda pengeluaran yang lain.

Karena dalam pasar yang semakin transparan dan terkoneksi, kemenangan tidak selalu datang kepada perusahaan dengan diskon terbesar.

Sering kali, ia datang kepada bisnis yang paling cepat memahami perubahan kecil dalam cara pelanggannya memilih.

Sumber:

  • [1] Badan Pusat Statistik — Indonesia’s Economic in Q2-2026 was 5.29 Percent (Y-on-Y), 5 August 2026.
  • [2] Bank Indonesia — Retail Sales Survey June 2026: Retail Sales Expected to Remain Stable, 9 July 2026.
  • [3] Bank Indonesia — Consumer Survey, June 2026.
  • [4] Badan Pusat Statistik — Tourism Statistics, May 2026, 1 July 2026.
  • [5] Bank Indonesia — BI-Rate Held at 5.75%, 22 July 2026.
  • [6] Reuters — Indonesia’s Economic Growth Slows to 5.3% in Q2, but Beats Forecast, 5 August 2026.
  • [7] BPS Statistical Metadata — Pengeluaran Konsumsi Rumah Tangga.

Published: 8 Agustus 2026

Source and editorial notes are managed through GATICORP CMS.