Ada satu perilaku pelanggan yang mudah disalahartikan.
Ia tetap datang ke toko.
Tetap membuka marketplace.
Tetap makan di luar.
Tetap membeli pakaian, kosmetik, kebutuhan rumah, atau produk kesukaannya.
Tetapi sebelum membeli, waktunya sedikit lebih lama.
Ia membandingkan harga.
Membaca ukuran kemasan.
Melihat alternatif.
Menunggu promo.
Bertanya apakah produk yang lebih mahal benar-benar memberikan sesuatu yang lebih baik.
Konsumen seperti ini bukan konsumen yang berhenti belanja.
Ia hanya menjadi lebih selektif.
Data terbaru memberi konteks untuk membaca perilaku tersebut.
Survei Konsumen Bank Indonesia pada Juli 2026 menunjukkan Indeks Keyakinan Konsumen masih optimistis di 116,8.[1]
Namun Indeks Kondisi Ekonomi Saat Ini turun dari 109,2 pada Juni menjadi 107,9, sedangkan Indeks Ekspektasi Konsumen bergerak dari 126,4 menjadi 125,7.[1]
Di sisi transaksi, penjualan retail Juli diprakirakan tumbuh 0,9% YoY, dengan Indeks Penjualan Riil 224,4.[2]
Sementara pada Agustus, inflasi konsumen meningkat menjadi 3,19% YoY.[3]
Tidak ada satu angka yang membuktikan bahwa seluruh konsumen Indonesia sedang “menahan belanja”.
Tetapi kombinasi tersebut cukup untuk mengingatkan brand tentang sesuatu yang mendasar:
optimisme konsumen tidak menghapus kebutuhan untuk membuktikan nilai.
Diskon bekerja—dan itulah masalahnya
Sulit menyangkal efektivitas diskon.
Potongan harga dapat meningkatkan conversion.
Mendorong trial.
Memindahkan stok.
Membantu mencapai target periode tertentu.
Menarik kembali pelanggan yang tidak aktif.
Masalah muncul ketika diskon berubah dari alat menjadi identitas harga.
Jika produk hampir selalu memiliki promo, pelanggan belajar satu hal:
harga normal mungkin bukan harga yang sebenarnya perlu mereka bayar.
Perilaku berikutnya dapat diprediksi.
Mereka menunggu tanggal kembar.
Menunggu payday.
Menunggu voucher.
Menunggu flash sale.
Brand mungkin masih menghasilkan transaksi, tetapi semakin kehilangan kemampuan menjual pada harga normal.
Harga dan nilai bukan hal yang sama
Perceived value tidak berarti produk harus mahal.
Ia berarti pelanggan dapat memahami mengapa produk tersebut layak dibeli pada harga tertentu.
Untuk produk makanan, nilai dapat berupa rasa, konsistensi, porsi, bahan, convenience, atau kepercayaan.
Dalam fashion, nilai bisa datang dari cutting, bahan, durability, desain, identitas, dan versatility.
Untuk jasa profesional, value mungkin berupa kecepatan, kompetensi, kejelasan, dan risiko yang dikurangi.
Dalam software, pelanggan mungkin menghargai waktu yang dihemat atau pekerjaan yang menjadi lebih mudah.
Brand yang kuat tidak selalu menjual dengan harga tertinggi.
Brand yang kuat membuat hubungan antara harga dan manfaat terasa masuk akal.
Konsumen selektif justru menguji kualitas positioning
Saat uang terasa mudah dibelanjakan, positioning yang tidak jelas dapat tertutup oleh permintaan.
Ketika konsumen lebih berhati-hati, kelemahannya mulai terlihat.
Jika pelanggan tidak dapat menjawab:
“Kenapa saya harus membeli produk ini, bukan alternatif yang lebih murah?”
maka perusahaan memiliki masalah value proposition.
Diskon mungkin menutup masalah itu untuk satu transaksi.
Tetapi tidak menyelesaikannya.
Jangan salahkan daya beli untuk semua masalah penjualan
Ketika penjualan melambat, narasi “daya beli turun” sangat mudah digunakan.
Kadang benar.
Kadang tidak lengkap.
Penjualan dapat melemah karena produk tidak lagi relevan.
Harga salah.
Experience memburuk.
Kompetitor lebih cepat.
Channel berubah.
Pelanggan lama tidak kembali.
Promosi tidak tepat sasaran.
Atau brand tidak memiliki diferensiasi yang cukup jelas.
Data makro harus dipakai sebagai konteks, bukan sebagai alasan otomatis.
Perhatikan apa yang terjadi pada keranjang belanja
Bagi bisnis, salah satu sinyal paling berguna bukan hanya jumlah transaksi.
Lihat apa yang berubah di dalam transaksi.
Apakah average transaction value turun?
Apakah pelanggan pindah ke SKU lebih murah?
Apakah ukuran kemasan kecil tumbuh?
Apakah pembelian produk premium menurun tetapi entry-level tetap kuat?
Apakah pelanggan hanya membeli ketika ada voucher?
Apakah bundle bekerja lebih baik daripada discount langsung?
Pertanyaan tersebut dapat menunjukkan apakah pelanggan benar-benar memiliki affordability problem atau hanya sedang mengevaluasi value secara lebih ketat.
Diskon yang sehat mempunyai pekerjaan spesifik
Ini bukan argumen untuk berhenti melakukan promosi.
Promosi tetap memiliki fungsi.
Tetapi setiap diskon sebaiknya memiliki pekerjaan yang jelas.
Misalnya:
mengakuisisi pelanggan pertama.
Mengaktifkan kembali pelanggan lama.
Mendorong cross-sell.
Mengurangi inventory tertentu.
Meningkatkan basket size.
Memperkenalkan kategori baru.
Jika tujuan discount hanya “supaya penjualan naik”, perusahaan sulit mengetahui apakah promo benar-benar menciptakan nilai jangka panjang.
Ukur apa yang terjadi setelah promo selesai
Jumlah transaksi saat kampanye bukan ukuran yang cukup.
Pertanyaan berikutnya jauh lebih penting:
Apakah pelanggan kembali membeli tanpa diskon?
Apakah repeat rate meningkat?
Apakah average order value membaik?
Apakah pelanggan membeli kategori lain?
Apakah gross margin setelah campaign masih sehat?
Jika jawabannya tidak, promosi mungkin sekadar memindahkan permintaan dari masa depan ke hari ini.
Ada risiko psikologis dari diskon terus-menerus
Harga bukan hanya angka ekonomi.
Ia juga sinyal.
Ketika sebuah produk selalu tersedia dengan potongan besar, pelanggan dapat mulai mempertanyakan harga referensinya.
Apakah barang ini memang layak Rp500.000 jika hampir setiap minggu dijual Rp299.000?
Lama-kelamaan harga diskon menjadi harga yang dianggap normal.
Inilah sebabnya menjaga pricing integrity penting bagi brand.
Bukan untuk mempertahankan harga tinggi dengan keras kepala.
Tetapi agar pelanggan tetap percaya bahwa harga memiliki hubungan yang rasional dengan nilai.
Bangun value melalui hal yang benar-benar dirasakan
Brand sering menggunakan kata-kata besar: premium, quality, authentic, innovative.
Masalahnya, pelanggan tidak membeli adjective.
Mereka membeli pengalaman.
Jika mengklaim berkualitas, tunjukkan durability atau bahan.
Jika mengklaim convenient, kurangi langkah yang menyulitkan.
Jika mengklaim personal, buat pelayanan terasa personal.
Jika mengklaim lokal, jelaskan cerita, sumber, craftsmanship, atau community value secara autentik.
Jika harga lebih mahal, tunjukkan apa yang membuat total experience berbeda.
Perceived value bukan slogan.
Ia dibangun dari detail.
UMKM punya keuntungan yang sering diremehkan
Perusahaan kecil biasanya kalah dalam skala promosi.
Tetapi mereka dapat menang dalam kedekatan.
Pemilik usaha sering berbicara langsung dengan pelanggan.
Mereka dapat memahami pertanyaan yang muncul, produk favorit, alasan pelanggan pergi, bahkan kata-kata yang digunakan pelanggan saat menjelaskan nilai.
Informasi tersebut sangat berharga.
UMKM tidak perlu selalu melawan marketplace atau brand besar menggunakan diskon.
Mereka dapat menggunakan proximity untuk menciptakan produk, layanan, storytelling, dan pengalaman yang lebih spesifik.
Premium bukan berarti mahal
Ada satu mitos lain.
Membangun value bukan berarti memaksa brand menjadi premium-price.
Value strategy tetap dapat bermain di segmen affordable.
Brand value-for-money bahkan dapat sangat kuat.
Kuncinya adalah konsistensi.
Pelanggan memahami apa yang mereka dapatkan.
Harga masuk akal.
Kualitas sesuai janji.
Tidak ada kejutan buruk.
Pengalaman mudah.
Untuk banyak konsumen, reliabilitas seperti itu justru lebih berharga daripada citra mewah.
Gunakan tiga lapisan untuk menguji positioning
Brand dapat melakukan audit sederhana.
Functional value
Apa manfaat nyata produknya?
Emotional value
Bagaimana pelanggan merasa ketika menggunakan atau membeli produk?
Economic value
Mengapa harga tersebut terasa masuk akal dibanding alternatif?
Jika ketiganya lemah, discount dependency mudah terbentuk.
Jika setidaknya satu atau dua sangat kuat dan konsisten, brand memiliki ruang lebih besar untuk mempertahankan harga.
Konsumen yang lebih kritis bukan kabar buruk
Selective consumers dapat membuat penjualan menjadi lebih sulit.
Namun mereka juga mendorong perusahaan menjadi lebih baik.
Produk harus lebih jelas.
Harga lebih rasional.
Komunikasi lebih jujur.
Promosi lebih disiplin.
Customer experience lebih relevan.
Dalam jangka panjang, itu bisa menghasilkan bisnis yang lebih sehat daripada pertumbuhan yang sepenuhnya didorong voucher.
Brand perlu memenangkan alasan membeli
Data konsumen Indonesia saat ini tidak menggambarkan rumah tangga yang berhenti berbelanja.
IKK masih optimistis, aktivitas retail tetap tumbuh secara tahunan, dan ekonomi Indonesia Q2 2026 sendiri tumbuh 5,29% YoY.[4]
Tetapi optimism does not remove choice.
Di pasar dengan pilihan yang makin banyak, memenangkan transaksi bukan hanya tentang menjadi paling murah.
Pertanyaan strategis bagi brand adalah:
Jika diskon dihilangkan besok, alasan apa yang masih dimiliki pelanggan untuk memilih kita?
Jawaban atas pertanyaan itu adalah inti dari brand value.
- [1] Bank Indonesia. “Survei Konsumen Juli 2026: Keyakinan Konsumen Terjaga.” 10 Agustus 2026.
- [2] Bank Indonesia. “Survei Penjualan Eceran Juli 2026: Penjualan Eceran Diprakirakan Meningkat.” 11 Agustus 2026.
- [3] Badan Pusat Statistik. “Inflasi year-on-year pada Agustus 2026 sebesar 3,19 persen.” 1 September 2026.
- [4] Badan Pusat Statistik. “Ekonomi Indonesia Triwulan II-2026 Tumbuh 5,29 Persen (Y-on-Y).” 5 Agustus 2026.
Published: 6 September 2026




