Belanja Pulih, Konsumen Makin Selektif

Bisnis

Belanja Pulih, Konsumen Makin Selektif

Keyakinan konsumen membaik pada Agustus, tetapi pertumbuhan penjualan eceran masih tipis. Bagi retailer dan brand, tantangannya bukan sekadar menarik traffic, tetapi memenangkan porsi belanja konsumen yang makin selektif.

Ada satu kombinasi data yang menarik dari konsumen Indonesia pada Agustus 2026.

Di satu sisi, keyakinan konsumen membaik.

Bank Indonesia mencatat Indeks Keyakinan Konsumen naik menjadi 118,5, dari 116,8 pada Juli.[1] Indeks Kondisi Ekonomi Saat Ini naik menjadi 109,4, sementara Indeks Ekspektasi Konsumen mencapai 127,6.[1]

Di sisi lain, penjualan eceran belum menunjukkan akselerasi yang sama kuat.

Indeks Penjualan Riil Juli tumbuh 1,1% YoY, membaik dari kontraksi 3,0% pada Juni. Namun untuk Agustus, pertumbuhan baru diprakirakan sebesar 0,5% YoY, dengan kontraksi 0,1% secara bulanan.[2]

Artinya, konsumen merasa lebih optimistis—tetapi belum tentu membelanjakan uang dengan agresif.

Itulah nuance yang penting bagi bisnis.

Confidence dan spending bukan hal yang sama

Consumer confidence mengukur persepsi dan ekspektasi.

Ia memberi gambaran apakah rumah tangga merasa kondisi sekarang dan masa depan membaik atau memburuk.

Retail sales mengukur sesuatu yang lebih konkret:

apakah transaksi penjualan benar-benar meningkat.

Dua indikator itu bisa bergerak berbeda.

Seseorang bisa merasa prospek ekonomi lebih baik, tetapi tetap:

menunda membeli barang mahal;

memilih merek lebih murah;

mengurangi frekuensi belanja;

membandingkan harga lebih lama;

atau memprioritaskan kategori tertentu.

Jadi optimisme psikologis tidak otomatis menjadi pertumbuhan konsumsi yang merata.

Ekonomi tetap tumbuh solid

Konteks makronya juga penting.

BPS mencatat ekonomi Indonesia tumbuh 5,29% YoY pada triwulan II-2026.[3]

Ini bukan lingkungan resesi.

Pertumbuhan ekonomi tetap positif dan relatif solid.

Karena itu, pembacaan yang lebih tepat bukan:

“konsumen berhenti belanja.”

Tetapi:

konsumen tetap belanja, namun prioritas dan cara membelanjakannya semakin selektif.

Retail recovery masih tipis

Setelah kontraksi 3,0% YoY pada Juni, pertumbuhan 1,1% pada Juli memang merupakan perbaikan.

Tetapi level tersebut belum menunjukkan boom.

Prediksi Agustus sebesar 0,5% bahkan lebih rendah dibanding Juli.[2]

Secara bulanan, baik Juli maupun Agustus juga berada di sekitar -0,1%.

Dengan kata lain, retail activity sedang bergerak positif secara tahunan, tetapi momentumnya masih lembut.

Bagi retailer, ini berarti jangan membaca angka positif sebagai izin untuk overstock.

Tidak semua kategori bergerak sama

Bank Indonesia mencatat pertumbuhan Agustus terutama ditopang oleh Suku Cadang dan Aksesori, disusul Makanan, Minuman, dan Tembakau.[2]

Sementara secara bulanan, pertumbuhan terlihat pada:

Peralatan Informasi dan Komunikasi;

Bahan Bakar Kendaraan Bermotor;

Suku Cadang dan Aksesori.

Di sisi lain, Kelompok Barang Lainnya mengalami penurunan.[2]

Jadi consumer spending tidak lemah secara seragam.

Ada kategori yang tetap dibutuhkan.

Ada kategori yang deferred.

Ada kategori yang sensitif terhadap promo.

Ada yang terkait mobilitas atau kebutuhan rutin.

Inilah sebabnya headline agregat sering menyembunyikan cerita kategori.

Essential lebih tahan daripada discretionary

Dalam kondisi konsumen lebih berhati-hati, kategori essential biasanya memiliki defence yang lebih kuat.

Makanan.

Minuman.

Transport.

Kebutuhan rumah tangga.

Produk yang langsung mendukung aktivitas sehari-hari.

Sementara discretionary spending dapat menghadapi lebih banyak pertimbangan.

Fashion.

Lifestyle upgrade.

Gadget tertentu.

Dining premium.

Entertainment.

Ini bukan aturan mutlak.

Tetapi bagi bisnis, penting untuk memahami posisi produknya dalam hierarchy of spending.

Konsumen tidak selalu turun kelas—mereka bisa mengubah cara membeli

Ada satu kesalahan umum dalam membaca konsumen selektif.

Brand sering langsung menyimpulkan:

“customer turun ke produk murah.”

Padahal behavioural response bisa lebih beragam.

Konsumen mungkin tetap membeli produk premium tetapi lebih jarang.

Tetap membeli merek yang sama tetapi ukuran lebih kecil.

Menunggu promo.

Mengurangi impulse purchase.

Memilih channel dengan harga lebih baik.

Mengurangi add-on.

Jadi perubahan bukan selalu trade-down.

Kadang yang terjadi adalah:

frequency compression.

Atau:

basket optimisation.

Basket size dan frequency perlu dibaca terpisah

Revenue bisa turun melalui dua jalur.

Jumlah customer sama, tetapi basket lebih kecil.

Atau basket tetap, tetapi customer datang lebih jarang.

Dua situasi ini membutuhkan response berbeda.

Jika basket mengecil, bundle atau cross-sell mungkin relevan.

Jika frequency turun, retention dan repeat trigger lebih penting.

Retailer yang hanya melihat omzet total bisa kehilangan diagnosis.

Promotional dependence menjadi risiko

Saat konsumen makin price-sensitive, promo dapat meningkatkan traffic.

Tetapi ketergantungan pada promo juga berbahaya.

Jika penjualan hanya bergerak ketika diskon besar, brand sebenarnya sedang membeli demand.

Pertanyaan yang perlu dilihat:

berapa penjualan full-price?

berapa uplift promo?

berapa repeat setelah promo?

apakah customer kembali tanpa voucher?

Jika tidak, discount mungkin menambah volume tanpa memperkuat economics.

Jangan selalu potong harga

Pilihan menghadapi konsumen selektif tidak selalu:

discount lebih besar.

Brand bisa mengubah:

pack size;

entry product;

bundle;

payment convenience;

loyalty benefit;

delivery option;

service level;

atau product mix.

Tujuannya mempertahankan affordability tanpa menghancurkan perceived value.

Pricing perlu lebih granular

Dalam pasar selektif, pricing satu arah bisa berbahaya.

Naikkan semua harga 10%.

Atau diskon semua 20%.

Keduanya terlalu kasar.

Lebih baik lihat elasticity per SKU.

Mana produk yang customer sangat sensitif pada harga?

Mana yang dibeli karena convenience?

Mana yang memiliki brand loyalty tinggi?

Mana yang mudah diganti?

Pricing strategy harus mengikuti behaviour, bukan headline inflasi.

Confidence membaik bisa berarti conversion opportunity

IKK 118,5 menunjukkan konsumen secara umum masih optimistis.[1]

Itu penting.

Konsumen yang confidence-nya jatuh biasanya lebih sulit dikonversi karena seluruh mindset menjadi defensive.

Saat confidence membaik tetapi spending tetap hati-hati, peluang bisnis justru ada pada value proposition.

Customer masih mau membeli.

Mereka hanya membutuhkan alasan yang lebih kuat.

Retailer harus mengejar share of wallet

Ketika total wallet tumbuh lambat, kompetisi menjadi lebih intens.

Jika customer mengalokasikan Rp1 juta untuk kategori tertentu per bulan, setiap brand berkompetisi memperebutkan porsi dari Rp1 juta itu.

Jadi target tidak hanya:

meningkatkan traffic.

Tetapi:

menjadi pilihan prioritas ketika konsumen harus memilih.

Itulah share of wallet.

Inventory planning menjadi lebih penting

Growth tipis membuat kesalahan inventory lebih mahal.

Jika forecast terlalu optimistis:

stock menumpuk.

discount meningkat.

working capital terkunci.

margin tertekan.

Jika terlalu konservatif:

stock-out.

lost sales.

customer pindah.

Karena itu retailer perlu meningkatkan demand sensing.

Lihat:

sell-through;

inventory days;

category velocity;

promo effect;

regional demand;

channel mix.

Bukan hanya growth tahun lalu.

Jangan samakan Jakarta dengan seluruh Indonesia

Consumer behaviour sangat berbeda berdasarkan:

kota;

income;

umur;

pekerjaan;

category;

dan household structure.

Sebagai contoh, ekonomi Jakarta tumbuh 5,52% YoY pada Q2 dan household consumption menyumbang sekitar 63,24% struktur pengeluaran regional.[4]

Tetapi itu tidak berarti pattern Jakarta sama dengan kota tier-2 atau rural market.

National strategy harus tetap melihat heterogeneity.

Customer segmentation menjadi lebih berharga

Ketika demand kuat, brand bisa tumbuh dengan broad campaign.

Ketika consumer selective, segmentation menjadi penting.

Customer loyal.

Price-sensitive customer.

High-frequency buyer.

Occasional buyer.

Promo hunter.

Premium buyer.

Masing-masing punya trigger berbeda.

Promosi yang sama ke semua customer membuang margin.

Retail data perlu menjadi lebih operasional

Banyak brand sudah memiliki data transaksi.

Tapi pertanyaannya:

apakah data dipakai untuk keputusan?

Monitor:

average basket;

frequency;

repeat rate;

discount dependence;

SKU substitution;

promo redemption;

return/refund;

channel migration.

Jika customer berpindah dari flagship store ke marketplace, total demand mungkin sama tetapi channel economics berubah.

Konsumen selektif juga memengaruhi marketing

Pesan marketing perlu berubah.

Dalam periode exuberant demand, aspirational message bisa kuat.

Dalam periode selektif, customer mungkin lebih responsif pada:

durability;

usefulness;

value;

versatility;

service;

warranty;

reliability.

Bukan berarti brand harus menjadi murah.

Tetapi alasan membeli harus terasa lebih jelas.

Brand premium pun tidak boleh panik

Selective consumer tidak otomatis mematikan premium market.

High-income customer bisa tetap belanja.

Tetapi premium brand perlu menjaga distinction.

Jika terlalu sering diskon, brand risk turun.

Lebih baik gunakan:

limited access;

bundle;

service benefit;

member privilege;

atau experiential value.

Discount bukan satu-satunya tool untuk conversion.

F&B harus melihat traffic dan ticket size

Untuk F&B, situasinya sangat konkret.

Customer mungkin tetap datang.

Tetapi pesan main course saja.

Lewati dessert.

Minum air.

Datang dua kali bukan tiga kali.

Revenue effect bisa besar meskipun customer count terlihat sehat.

Jadi operator perlu melihat:

covers;

ticket size;

add-on;

frequency;

daypart.

Traffic saja tidak cukup.

Fashion perlu membaca wardrobe substitution

Untuk fashion, konsumen selektif bisa berarti:

lebih sedikit purchase;

lebih banyak mix-and-match;

menunda seasonal purchase;

atau memilih item yang versatile.

Brand yang memahami behaviour ini dapat merancang product line yang lebih tepat:

repeatable essentials;

statement piece;

entry price;

limited collection.

Bukan hanya menambah SKU.

Retail recovery perlu dibaca dengan disiplin

Data Agustus belum menunjukkan consumer boom.

Tetapi juga tidak menunjukkan collapse.

Confidence naik.

Retail tetap positif.

Ekonomi tumbuh.

Ini adalah lingkungan yang cukup sehat tetapi kompetitif.

Perusahaan perlu menghindari dua ekstrem:

terlalu pesimis sehingga kehilangan opportunity;

atau terlalu optimistis sehingga overstock dan overdiscount.

Lima pertanyaan bagi retailer

Pertama:

apakah revenue tumbuh karena lebih banyak customer atau harga lebih tinggi?

Kedua:

apakah basket mengecil?

Ketiga:

apakah frequency turun?

Keempat:

berapa besar sales bergantung pada promo?

Kelima:

kategori mana yang benar-benar tumbuh secara volume?

Lima pertanyaan ini lebih berguna daripada hanya melihat headline IPR.

Konsumen belum mundur—mereka menimbang lebih keras

Data Agustus memberi sinyal yang menarik.

Keyakinan meningkat.

Ekonomi tetap tumbuh.

Retail sales kembali positif.

Tetapi momentum spending masih moderat.

Itu berarti customer belum menutup dompet.

Mereka hanya semakin berhati-hati menentukan kapan dan untuk apa dompet dibuka.

Bagi bisnis, tantangannya berubah.

Bukan sekadar:

“Bagaimana membuat orang datang?”

Tetapi:

“Bagaimana menjadi pilihan ketika konsumen hanya memilih sedikit?”

Dalam pasar seperti ini, brand yang menang bukan selalu yang paling murah.

Ia adalah brand yang paling jelas menjelaskan:

mengapa pembelian itu layak dilakukan sekarang.

  • [1] Bank Indonesia. Survei Konsumen Agustus 2026: Keyakinan Konsumen Meningkat, 9 September 2026. IKK 118,5; IKE 109,4; IEK 127,6.
  • [2] Bank Indonesia. Survei Penjualan Eceran Agustus 2026, 10 September 2026. IPR Juli +1,1% YoY; Agustus diprakirakan +0,5% YoY; -0,1% MtM.
  • [3] Badan Pusat Statistik. Ekonomi Indonesia Triwulan II-2026 Tumbuh 5,29 Persen YoY, 5 Agustus 2026.
  • [4] BPS Provinsi DKI Jakarta. Pertumbuhan Ekonomi DKI Jakarta Triwulan II-2026, 5 Agustus 2026.
  • Data Agustus untuk penjualan eceran merupakan prakiraan Survei Penjualan Eceran BI, bukan realisasi final.
  • Consumer confidence tidak identik dengan actual spending. Artikel secara sengaja memisahkan indikator sentimen dan indikator transaksi.
  • Artikel tidak menyatakan seluruh konsumen Indonesia melakukan trade-down; perilaku berbeda menurut segmen, pendapatan, wilayah, dan kategori.

Published: 21 September 2026