Sebuah perusahaan dapat membukukan laba, meningkatkan pendapatan, dan memperbaiki margin—namun pada saat yang sama menghadapi masalah berbeda di pasar modal.
GoTo memberi contoh yang menarik.
Pada akhir Juli, PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk melaporkan laba periode berjalan sebesar Rp252 miliar pada kuartal II 2026. Pendapatan bersih naik 31% secara tahunan menjadi Rp5,653 triliun, sementara core GTV tumbuh 83% menjadi Rp164,331 triliun.[3]
Kurang dari dua minggu kemudian, muncul berita yang tampaknya bergerak ke arah berlawanan: MSCI akan menghapus GoTo dari MSCI Indonesia Index pada akhir Agustus karena persoalan likuiditas saham.[1]
Apakah dua berita tersebut bertentangan?
Tidak.
Justru di situlah pelajaran bisnisnya.
Dua cerita dapat berjalan bersamaan
Fundamental bisnis dan kualitas perdagangan saham mengukur hal yang berbeda.
Laporan keuangan menjawab pertanyaan seperti:
Apakah pendapatan tumbuh?
Apakah bisnis menghasilkan laba?
Apakah margin membaik?
Apakah pelanggan dan transaksi bertambah?
Indeks pasar mempunyai pertanyaan tambahan.
Apakah saham cukup mudah dibeli dan dijual?
Apakah investor dapat membangun posisi tanpa mengalami kendala transaksi yang terlalu besar?
Apakah free float dapat diidentifikasi secara kredibel?
Apakah harga pasar dapat digunakan untuk mereplikasi indeks?
MSCI pada Mei secara eksplisit menyatakan adanya potensi masalah index replicability pada GoTo akibat likuiditas yang sangat rendah setelah saham diperdagangkan pada harga minimum Rp50 sejak 13 Mei. Perubahan terkait jumlah saham dan faktor inklusi kemudian dibekukan sambil menunggu penilaian kembali pada August Index Review.[2]
Pada 12 Agustus, Reuters melaporkan bahwa hasil review tersebut berujung pada penghapusan GoTo dari MSCI Indonesia Index pada akhir bulan.[1]
Itu adalah cerita tentang market liquidity, bukan otomatis cerita tentang kemampuan perusahaan membayar kewajiban atau menghasilkan kas.
Likuiditas saham bukan likuiditas perusahaan
Kata “likuiditas” mudah menimbulkan kesalahpahaman.
Dalam perusahaan, liquidity biasanya berkaitan dengan kemampuan memenuhi kewajiban jangka pendek: cash, current assets, working capital, atau akses pembiayaan.
Dalam konteks saham, liquidity menggambarkan seberapa mudah aset dapat diperdagangkan dalam volume yang cukup tanpa menimbulkan friksi harga yang berlebihan.
Keduanya tidak boleh dicampur.
Saham yang tidak likuid tidak otomatis berarti perusahaannya kekurangan uang.
Sebaliknya, perusahaan dengan kas kuat belum tentu mempunyai saham yang sangat likuid.
Kasus GoTo menjadi relevan karena pasar dapat melihat peningkatan pada satu dimensi dan masalah pada dimensi lain secara bersamaan.
GoTo melaporkan laba untuk dua kuartal berturut-turut pada Q1 dan Q2 2026. Adjusted EBITDA grup Q2 mencapai Rp1,010 triliun, naik 137% y/y, sementara pendapatan bersih mencapai Rp5,653 triliun.[3] Perusahaan juga mempertahankan panduan adjusted EBITDA 2026 sebesar Rp3,2–3,4 triliun.[3]
Namun indikator-indikator tersebut tidak menjawab pertanyaan MSCI tentang kemampuan investor indeks memperdagangkan saham dalam ukuran yang diperlukan.
Mengapa indeks peduli pada investability
Indeks bukan sekadar daftar perusahaan terkenal atau perusahaan dengan kapitalisasi besar.
MSCI Indonesia Index dirancang untuk mewakili segmen large dan mid-cap pasar Indonesia serta sekitar 85% dari equity universe Indonesia.[6] Investor dapat menggunakan indeks seperti ini sebagai benchmark atau dasar untuk produk investasi yang harus mengikuti komposisinya.
Konsekuensinya, sebuah saham tidak cukup hanya memiliki kapitalisasi tertentu.
Ia harus investable.
Bayangkan sebuah fund perlu mengikuti indeks.
Ketika bobot sebuah perusahaan berubah, fund tersebut mungkin harus membeli atau menjual saham dalam jumlah besar.
Jika volume perdagangan terlalu kecil, transaksi yang secara teoritis sederhana dapat menjadi sulit dilakukan.
Harga dapat bergerak hanya karena fund mencoba mereplikasi perubahan indeks.
Atau posisi yang dibutuhkan tidak dapat dibangun dalam waktu dan ukuran yang wajar.
Bagi penyedia indeks, itu bukan persoalan kecil.
Indeks yang tidak dapat direplikasi dengan cukup baik kehilangan fungsi praktisnya bagi investor yang mengikutinya.
Fundamental membaik tidak menghapus persoalan pasar
Di sinilah framing harus dijaga dengan hati-hati.
Penghapusan dari indeks tidak membuktikan bahwa fundamental GoTo memburuk.
Sebaliknya, laba perusahaan juga tidak otomatis membuktikan bahwa persoalan likuiditas saham telah selesai.
GoTo sendiri mengatakan kepada Reuters bahwa keputusan MSCI merupakan keputusan teknis yang mengikuti kondisi saham di harga minimum dan volume perdagangan yang rendah, bukan konsekuensi dari kinerja bisnis. Perusahaan menyatakan akan tetap berdialog dengan MSCI.[1]
Pemisahan tersebut penting bukan hanya untuk GoTo.
Manajemen perusahaan publik dapat melakukan pekerjaan yang baik dalam memperbaiki operasi, tetapi capital-market architecture mempunyai KPI sendiri.
Investor menilai earnings.
Tetapi investor institusional juga menilai:
free float;
market depth;
ownership structure;
governance;
information quality;
trading accessibility;
dan kemampuan keluar dari posisi ketika dibutuhkan.
Inilah mengapa sebuah public company sebenarnya mempunyai dua pekerjaan sekaligus:
menjalankan bisnis dengan baik dan tetap investable sebagai sekuritas.
Indonesia menghadapi isu yang lebih luas
Kasus GoTo juga terjadi dalam periode ketika pasar modal Indonesia sedang berada di bawah pengawasan lebih intensif mengenai investability.
Pada 2026, MSCI menyoroti kekhawatiran investor internasional mengenai transparansi struktur kepemilikan dan dugaan pola perdagangan terkoordinasi yang dapat menyulitkan penilaian true free float dan price discovery.[5]
OJK, Bursa Efek Indonesia dan KSEI merespons melalui sejumlah reformasi.
Empat langkah utamanya mencakup disclosure kepemilikan saham di atas 1%, High Shareholding Concentration disclosure, klasifikasi investor yang lebih granular, serta peningkatan minimum free float secara bertahap menjadi 15% melalui perubahan Peraturan Bursa I-A.[4]
MSCI mengakui langkah-langkah tersebut dalam Market Classification Review Juni. Namun penyedia indeks itu menekankan bahwa yang penting bagi investor institusional global adalah implementasi yang konsisten dan dampak yang berkelanjutan terhadap accessibility dan investability.[5]
Dengan kata lain, regulasi dapat berubah dalam hitungan bulan.
Membangun kepercayaan pasar biasanya membutuhkan bukti lebih lama.
Free float bukan sekadar angka compliance
Bagi manajemen perusahaan publik, free float kadang terlihat seperti persyaratan listing.
Namun secara ekonomi, konsepnya jauh lebih luas.
Semakin sedikit saham yang benar-benar tersedia untuk diperdagangkan, semakin kecil ruang bagi pasar untuk menyerap order besar.
Tetapi angka free float di atas kertas juga belum cukup.
Investor ingin mengetahui apakah saham yang dikategorikan sebagai publik benar-benar dapat diperdagangkan secara independen dan apakah struktur kepemilikannya cukup transparan.
Itulah sebabnya reformasi Indonesia tidak hanya berfokus pada menaikkan minimum free float menjadi 15%.
OJK, IDX dan KSEI juga memperkuat disclosure kepemilikan di atas 1% serta mekanisme High Shareholding Concentration.[4]
Bagi issuer, pesan strategisnya jelas:
market access membutuhkan transparency, bukan hanya jumlah saham.
Apa yang dapat dipelajari manajemen perusahaan publik
Pelajaran pertama adalah memisahkan KPI operasional dengan KPI pasar modal.
Revenue growth penting.
Profitability penting.
Cash flow penting.
Tetapi perusahaan publik juga perlu melihat:
siapa yang memiliki saham;
berapa effective free float;
berapa besar turnover dan depth perdagangan;
bagaimana investor institusional melihat accessibility;
dan apakah disclosure cukup membantu price discovery.
Pelajaran kedua adalah bahwa investor relations tidak seharusnya hanya menjadi fungsi komunikasi.
IR berada di persimpangan antara strategi perusahaan, governance dan struktur pasar.
Tim yang baik tidak hanya menjelaskan quarterly earnings.
Mereka juga memahami bagaimana perusahaan dipersepsikan oleh investor yang berbeda, termasuk investor pasif dan institusional yang bekerja berdasarkan benchmark.
Pelajaran ketiga adalah bahwa indeks bukan penghargaan korporasi.
Masuk indeks bukan sertifikat bahwa sebuah perusahaan “baik”.
Keluar indeks juga bukan keputusan bahwa sebuah perusahaan “buruk”.
Indeks mempunyai metodologi dan tujuan tertentu.
Menilai perusahaan hanya dari status indeks akan sama sederhananya dengan menilai perusahaan hanya dari laba satu kuartal.
Kasus GoTo menunjukkan mengapa dua lensa diperlukan
GoTo saat ini memberikan contoh yang jarang terlihat sejelas ini.
Di satu sisi, perusahaan melaporkan dua kuartal berturut-turut dengan laba positif serta pertumbuhan pendapatan dan adjusted EBITDA yang kuat.[3]
Di sisi lain, MSCI melihat persoalan likuiditas perdagangan yang cukup material untuk mengeluarkan saham tersebut dari indeks setelah review.[1][2]
Kedua fakta itu dapat benar pada waktu yang sama.
Dan bagi business leader, itulah pelajaran yang lebih berharga daripada sekadar melihat apakah sebuah saham masuk atau keluar indeks.
Perusahaan publik harus menghasilkan nilai di dalam bisnis—dan pada saat yang sama membangun struktur pasar yang memungkinkan nilai tersebut diakses, dinilai dan diperdagangkan secara kredibel oleh investor.
Sumber:
- [1] Reuters. MSCI to drop ride-hailing firm GoTo from Indonesia index on liquidity concerns. 12 August 2026.
- [2] MSCI. PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (ID) — Amendment to the May 2026 Index Review. 26 May 2026.
- [3] PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk. GoTo Kembali Cetak Laba Bersih di Kuartal II-2026. 29 July 2026.
- [4] OJK, IDX & KSEI. Complete Four Agenda Items for Indonesia Capital Market Transparency Reform. 2 April 2026.
- [5] MSCI. MSCI 2026 Market Classification Review. 23 June 2026.
- [6] MSCI. MSCI Indonesia Index. Data as of 30 June 2026.
- Editorial Notes
- Artikel bukan rekomendasi beli, jual, atau tahan saham GoTo.
- Penghapusan MSCI tidak digambarkan sebagai bukti fundamental GoTo memburuk.
- Laba Q2 tidak digunakan untuk menyimpulkan persoalan likuiditas pasar telah selesai.
- Istilah liquidity dibedakan antara corporate liquidity dan stock-market liquidity.
- Data keuangan Q2 GoTo diberi catatan bahwa informasi kuartalan tersebut belum diaudit/review auditor.
- Isu MSCI terhadap pasar Indonesia tidak digunakan untuk menuduh perusahaan tertentu melakukan manipulasi atau coordinated trading.
- Artikel mempertahankan posisi netral terhadap GoTo, MSCI, OJK dan BEI.
Published: 13 Agustus 2026
Source and editorial notes are managed through GATICORP CMS.




